Bau tubuhnya tercium. Bokep Masih menutupi diri dengan tabloid. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Kali ini dengan telapak tangan. Daripada suntuk diam di rumah, tadi malam aku menyelesaikan kerjaan yang masih menumpuk. Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Ah segar. Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Tidak perlu diantar. Aku tidak menjepit tubuhnya. Bibirnya sedang tidak terlalu sensual. Mobil melaju. Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Ah masa bodo. Benarkan kesempatan itu lewat. Sampai ia selesai mengelap bagian belakang pahaku dan berdiri. Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung.




















