Sekarang sudah lebih lancar. Bokep Kaki disandarkan di dinding. Aku masih mematung. Payudara itu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang.Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Ini kesempatan kedua. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Hawin datang. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat.Bau tubuhnya tercium. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Hawin..,” gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? Nafasnya tercium hidungku. Tangannya halus. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Lalu ia memijat lutut. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Aku berhasil.




















