Kulihat mbak Darsih menatapku penuh arti, saat itu aku sedang menimba air hanya dengan bercelana dalam saja. Ada bom meledak juga tetap ngorok, sahut kakek sebelum aku sempat menjawab.Aku cuma tertawa menanggapinya. Bokep tanyaku.Ah, biasa. Sedangkan kakek dan mbak Darsih tetap di kamar depan, bersama anak-anaknya yang masihkecil. Setelah itu, desa kami benar-benar sepi dan kebanyakan penghuninya langsung terlelap dalam mimpi.Di pertengahan kelas dua, kulihat kakek suka mulai merasa kelelahan, mungkin karena usianya yang makin merambat senja. Tak terasa, sudah satu tahun kami hidup bertiga. Sehari-hari, aku biasanya membantu kakek. Aku yang kadang suka diledek oleh teman-temanku -bahkan saudara-saudaraku- sebagai anakyang sedikit bodoh dan polos, tapi di matambak Darsih, aku adalah anak yang baik. Kini aku sudah naik ke kelas 2 SMP.




















