Lalu asyik membuka tabloid. Ke bawah: Tdk. Video bokep Come on lets go! Tapi kakiku saja yg seperti memagari tubuhnya. Ia tdk lagi dingin dan ketus. Lalu memegang pahaku,“Yg mana..?”Yes..! Alamak.., jauhnya. Ke bawah lagi: Turun. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Iin lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Iin kembali ke tempatku. Aq meringis menahan sensasasi yg waow..! Semua orang bebas masuk asal punya uang. Ayo..!Aq masih diam saja. Dadaku berguncang. Nafasnya tercium hidungku. Ia sudah membereskan peralatan pijat. Tapi ia dingin sekali. Aq berhasil.“Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Tdk pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Masih melongo.“Tolong itu jendelanya direptin sedikit…” katanya lagi.“Ini…? Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.Aq harus, harus, harus..! Badannya berbalik lalu melangkah.




















